EVALUASI PROGRAM PEMBANGUNAN PETERNAKAN MELALUI PERSPECTIVE ANALYSIS DI PROPINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Pendahuluan
Paradigma manajeman pembangunan pertanian telah berubah, yaitu dari sebelumnya menempatkan pemerintah sebagai pelaku menjadi fasilitator, akselerator, dan regulator. Dengan paradigma baru ini program-program pembangunan pertanian lebih diarahkan kepada pemberdayaan masyarakat atau dengan kata lain peran pemerintah adalah menyiapkan suatu kondisi yang memungkinkan berkembangnya proses kreatif di masyarakat.
Dalam kapasitasnya sebagai fasilitator, akselerator, dan regulator; pemerintah, dalam hal ini direktorat jenderal peternakan, telah menyususn kebijakan pembangunan peternakan jangka panjang dalam Rencana Strategis dan Program Kerja Pembangunan Peternakan Tahun 2006-2009. Idealnya kegiatan manajemen paling tidak mencakup tiga komponen utama, yaitu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi atau mengendalikan. Untuk memperoleh kinerja yang optimal dari suatu kebijakan (yang telah ditetapkan dan kemudian diimplementasikan dalam suatu program dan untuk dioperasionalkan lebih lanjut dalam suatu kegiatan) diperlukan suatu pengendalian yang intensif.
Monitoring dan evaluasi adalah suatu aktivitas dalam siklus manajemen suatu organisasi yang dilakukan secara intensif setelah rencana ditetapkan atau untuk memantau dan kemudian mengukur pencapaian sasaran maupun cara mencapainya pada kurun waktu tertentu. Evaluasi kinerja yang biasa dilakukan oleh instansi pemerintah didasarkan kepada akuntabilitasnya. Dalam menghadapi era persaingan bebas (pasar global) sangat ditentukan oleh teknologi driven dan kesiapan SDM yang handal. Untuk mengetahui capaian kinerja terhadap implementasi program/kegiatan pembangunan peternakan yang menggunakan dana APBN, pada setiap satuan kerja (SATKER) maka dilaksanakan Evaluasi Program Pengembangan Peternakan.
Tujuan
Adapun tujuan kegiatan ini adalah:
1. Memantau tingkat capaian kinerja dan manfaat alokasi anggaran pembangunan peternakan pada SATKER Sub Dinas Peternakan – Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2006 yang dikaitkan pada fokus kegiatan yang mendukung program kecukupan daging sapi tahun 2010 dan kesesuaian komoditas terhadap pembangunan peternakan di Propinsi.
2. Mengevaluasi perkembangan pelaksanaan BLM/BPLM/PMUK periode 2002-2005 dan mengidentifikasi kelompok yang memiliki kemampuan untuk dapat ditransformasikan menjadi lembaga keuangan mikro (LKM) di pedesaan.
Sasaran
Teridentifikasinya keterkaitan program pembangunan peternakan di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan program pembangunan peternakan nasional.
Pembahasan
A. Evaluasi Program Satuan Kerja Dinas/Subdinas Peternakan
Secara umum hasil evaluasi kegiatan satuan kerja (satker) Sub Dinas Peternakan – Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang didanai dari APBN Tahun 2006 Direktorat Jenderal Peternakan adalah sebagai berikut :
1. Program unggulan satker dalam bidang sapi potong
2. Kegiatan program aksi difokuskan pada program perbibitan sapi potong.
a. Lokasi perbibitan berada diwilayah agropolitan.
b. Penempatan sapi dikandangkan dalam bentuk koloni atau disatu kawasan c. Kandang telah terbangun dalam bentuk permanen (bantuan dari Dinas
c. Kimpraswil)
d. Introdusir ternak bibit rencananya minggu depan sebanyak 125 ekor.
e. Hanya saja, kawasan agropolitan tersebut belum ditata dengan baik terutama pembagian luas wilayah peruntukan komoditas agropolitan dan non agropolitan (permukiman)
f. Land clearing (pembersihan lahan), tidak menyisakan pohon-pohon yang telah tumbuh, seharusnya menyisakan beberapa pohon untuk naungan
3. Kegiatan Tugas Perbantuan difokuskan pada program sapi potong. Saat ini rata-rata ditiap kabupaten/kota telah membentuk kelompok peternak penerima dana tugas pembantuan
B. Evaluasi BLM/BPLM/PMUK
Adapun kondisi umum kelompok peternak penerima dana BLM/BPLM/PMUK yang dilakukan survei terhadap dua kelompok peternak hasil seleksi, yaitu Kelompok Mekarsari (Tahun 2003) di Kabupaten Bangka dan Kelompok Bina Bersama (Tahun 2005) di Kabupaten Bangka Tengah. Usaha yang dilakukan adalah penggemukan untuk Kelompok Mekarsari dan usaha perbibitan untuk Kelompok Bina Bersama.
C. Hasil Perspective Analysis
Ada dua isu yang menjadi pembahasan focus group discussion melalui metode perspective analysis, yaitu Isu Daya Dukung Wilayah dan Isu Pembangunan Peternakan di Provinsi. Analisis kemungkinan di masa depan ini melibatkan seluruh peserta seminar yang terdiri dari perwakilan Dinas/Subdinas Peternakan Kabupaten/Kota di Provinsi Bangka Belitung, Perwakilan Kelompok Penerima BLM/BPLM/PMUK, Perwakilan dari Direktorat Jenderal Peternakan, dan difasilitasi oleh Tim Fakultas Peternakan UNPAD.
Berdasarkan hasil diskusi yang melibatkan peserta sehingga setiap peserta dapat mengemukakan kondisi yang terjadi di daerahnya masing-masing berkenaan dengan isu daya dukung wilayah dan permasalahan pembangunan peternakan, maka hasil perspective analysisnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
C1. Isu-isu Daya Dukung Wilayah
Analisis Matriks Berpengaruh dan Ketergantungan
Hasil Analisis Ketergantungan
Hasil Analisis Diagram Scatter
Saran dan Rekomendasi Perencanaan Kegiatan/Program Peternakan di masa yang akan datang untuk Daya Dukung Wilayah
C2. Permasalahan Pembangunan Peternakan di Provinsi
Analisis Matriks Berpengaruh dan Ketergantungan
Hasil Analisis Diagram Scatter
Saran dan Rekomendasi Perencanaan Kegiatan/Program Peternakan di masa yang akan datang berdasarkan permasalahan pembangunan peternakan
Sehubungan dengan hasil yang dicapai tidak terdapat faktor yang dominan untuk pembangunan peternakan di Provinsi Bangka Belitung, maka Dinas/Sub Dinas Peternakan di Provinsi Bangka Belitung harus memperhitungkan faktor-faktor yang mempunyai daya pengaruh yang tinggi sebagai awalan pembangunan peternakan di masa depan.
sumber referensi
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/0/hasil_evaluasi_program_pembangunan_peternakan.pdf
sumber referensi
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/0/hasil_evaluasi_program_pembangunan_peternakan.pdf